An interesting photo blog
•November 28, 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarBali … Part 5
•November 28, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
"Sunrise at Nikko" | 17mm | Av @ f22 | 0.8 secs | ISO100 | EV0 | GND 0.6x | Tripod mounted | Hyperfocals
Sayang sekali lensa yang kupunya tidak cukup wide, sepertinya aku butuh 10mm untuk pemandangan ini. Hal ini karena indahnya ray of light berwarna merah dengan background langit biru gelap tidak sepenuhnya bisa ditangkap pada foto ini. Keindahan yang akhirnya pasrah aku nikmati dengan mataku saja
Momen fotografi pagi hari ada 2. Sunrise adalah salah satu yang semua orang cukup paham. Tapi 5-15 menit sebelum sunrise sebenarnya juga ada momen twilight dimana langit sangat indah. Warna biru gelap langit malam bertransformasi jadi langit pagi. Seringkali awan putih, merah, kuning atau ray of light nampak. Jadi, jangan telat bangun
Begitu matahari mulai muncul maka kendala utama pemotretan landscape muncul pula….dynamic range. Kalau kita metering langit maka bagian bawah dari foto akan gelap. Sebaliknya metering pada bagian bawah foto (foreground) maka langit akan overexposed (putih). Oleh sebab itu filter Gradual Neutral Density biasanya adalah wajib.
Untuk menentukan GND mana yang tepat ada 2 opsi. Coba – coba adalah opsi 1. Opsi lain adalah menggunakan spot metering dan melihat berapa perbedaaan metering antara langit dan daratan. Misalnya waktu kita spot metering langit jatuh di f8 sementara di daratan butuh f4 maka sebenarnya kita hanya butuh 2 stop GND (GND 0.6x)
PS : tiap 1 stop maka angka apperture kurang lebih naik 1.4x. Misalnya : f1.4, f2, f2.8, f4, f5.6, f8 –> masing masing beda 1 stop
Foto yang ini masih bisa handheld karena lensa yang aku gunakan ada image stabilizer-nya, dan obyeknya adalah landscape yang “tidak bergerak”.

"Reflection of sunrise" | 17mm | Av @ f22 | 0.6 secs | ISO100 | EV0 | Tripod Mounted | GND 0.6x | Crop using Canon DPP
Selain keindahan sunrise fotografi di tepi pantai yang dangkal seperti di Nikko Hotel bali ini ada keuntungannya, refleksi. Hal ini karena pada laut dangkal maka goyangan air dan ombak minimal.
Oleh karena matahari sudah mulai muncul maka tidak memungkinkan mendapatkan “proper” metering. Bagian matahari pasti over exposed. Sehingga aku putuskan untuk mengambil pendekatan yang berbeda, yaitu lebih fokus pada pantulan-pantulan yang ada di pantai. Salah satu idenya adalah membuat seakan-akan kita sedang terbang melintasi kepulauan menuju matahari, seperti di foto di bawah ini :
Flare memang salah satu kendala, sulit dihindarkan bahkan menggunakan lens hood sekalipun. Hal ini karena sinar matahari masuk langsung ke lensa, garis lurus.
VISIT INDONESIA….visit bali….enjoy “The Land of God”
Bali … Part 4
•November 27, 2009 • & KomentarMasih di kisaran Bali, tepatnya Tenganan, Pantai Candidasa dan Pantai di Nikko Hotel
Pilihan warna sephia digunakan untuk menguatkan kesan etnik yang ada. Angle dipilih untuk menambahkan kesan dinamis pada foto. Sedangkan apperture dan iso menyesuaikan dengan kebutuhan depth of field dan juga pencahayaan yang ada (ingat rule of thumbs shutter speed adalah 1/focal length – atau minimal 1/60 secs untuk still life dan 1/125 secs untuk human interest).
Kondisi pemotretan cukup menantang, karena hujan rintik-rintik dari arah muka. Sehingga potensi lensa kena rintik hujan menjadi sangat besar. Pada saat seperti inilah Lens Hood sangat berguna. Hood membuat rintik hujan tertahan sedikit.
f11 digunakan untuk memastikan depth of field maksimum. Tapi sebenarnya pada kasus dimana focal length tele yang digunakan kita bisa menggunakan f8 atau bahkan f6.3. Tapi untuk amannya maka gunakan apperture sempit seperti f11.
Custom white balance dengan nuansa warm digunakan untuk menguatkan efek sore hari yang memang terasa disana pada sore itu. Apabila kita menggunakan auto white balance maka nuansanya akan cenderung cold. Hal ini dikarenakan banyaknya porsi awan pada foto, mengakibatkan perhitungan auto white balance menjadi meleset.

"Sunrise at Nikko Bali" | 17mm | Av @ f8 | 1/4 secs | ISO400 | EV-1 | Handheld - without tripod, IS in Lens is activated
Saat keluar dari kamar hotel untuk berburu sunrise ternyata langit pagi sudah begitu indahnya. Tergopoh gopoh saya berlari. Di kepala saya yang terbayang adalah siluet nyiur (pohon kelapa) yang berjejer menjadi foreground dari langit yang indah ini. Sayang sekali, tengok kanan kiri maka barisan nyiur dengan siluet payung-payung pantai ini adalah spot terdekat dan terbaik saat itu. Oleh sebab itu saya putuskan ambil saja foto disini, mengingat momen twilight sunrise hanya berlangsung 10-15 menit saja.
Image Stabilizer yang ada pada lensa EF-S 17-55 f2.8 IS milik saya sangat berguna dalam kondisi ini. ISO tidak mungkin saya push lebih jauh lagi karena batasan kamera saya untuk hasil yang masih considerably noise free adalah ISO400. Sedangkan apperture saya tidak berani push lebih lebar lagi misalnya di f5.6 (sebenarnya kalau sekarang mikir2 lagi sih harusnya berani aja, siluet ini kan ya?). Jadi pilihannya adalah mengandalkan IS yang bisa menahan getaran sampai dengan 2-3 stop.
Exposure compensation harus diturunkan (dalam kasus ini -1). Hal ini dikarenakan langit dan siluet yang cenderung gelap akan mengacaukan kalkulasi metering kamera. Akibatnya jika kita tidak turunkan EV nya maka kamera akan berusaha membawa overall tone ke gray 18%, alias menjadi over exposure.
Sudah jelas ini adalah refleksi awan-awan yang ada di pantai hotel Nikko. Untuk mendapatkannya tentunya tripod adalah mutlak. Hal ini dikarenakan kita menyertakan foreground s/d background. Sehingga kita perlu memaksimalkan depth of field kita, misalnya dengan menggunakan f22, dan dibantu tripod untuk menjaga tingkat goyang dari kamera.
Selamat menikmati….











